Skip to main content

ANAK TANTRUM? APA YANG HARUS DILAKUKAN?

ANAK TANTRUM? APA YANG PERLU DILAKUKAN?
By @canunkamil

Dear parents,

Sebelum kita menikah dan berkeluarga, apa yang terbayang dalam benak kita? Mungkin saja, bayangan bahwa pernikahan bagaikan kehidupan Cinderella, yang berujung kepada 'happily ever after', tersimpan di dalam benak kita. Begitu juga rasanya dengan memiliki anak, entah apakah ekspektasi bertipe Cinderella ini juga turut tinggal dalam benak kita kah? Yang punya anggapan bahwa anak yang baik adalah anak yang diam, gak banyak ngomong, ngasih banyak kesempatan untuk ortunya menyelesaikan cerita drama koreanya. Hehehe. Yang pasti, jika ekspektasi tipe seperti ini yang mewarnai otak kita selama ini, dan kita menghadapi realita yang tidak seperti yang kita harapkan, yang ternyata seringkali sebabkan kita mudah lepas kontrol emosi kita kepada anak, tepatnya karena unmeet expectation.

Sebetuonya, siapa sih yang bikin ekspektasi ini? Dan kok bisa, korbannya ke sosok yang masih mungil, bersih, dan masih bersih dosa? Bahkan, ekspektasi ini, membuat kita mungkin khilaf melihat beberapa kenyataan berikut ini:

Bahwa, yang namanya anak kecil yang baru lahir kemarin sore, lihatlah normalnya, ia terlahir kemudian langsung menangis. Tandanya apa? Semenjak lahir, yang cenderung mendominasi adalah emosinya, kan? Dan, sudah bisakah ia kendalikan emosinya? Pastinya belum. Maka, kalau balita kita tantrum, wajar? Belum terlatih kan dirinya untuk kendalikan emosinya?

Naah, kalau orangtua ikutan tantrum menangani anak yang baru lahir kemarin sore yang lagi tantrum, wajar gak sih?
Sosok orangtua yang sejatinya mengayomi, yang dewasa, masa sih ikutan tantrum menangani anaknya tantrum?
Kalau begini, jadi gak jelas ini, mana yang masih anak-anak, mana yang sudah dewasa

Justruu, pertama yang perlu disadari, betul-betul perlu DISADARI, adalah bahwa orangtua yang perlu mengayomi anak.

It's true kalau anak kita belum terampil me-manage emosinya. Karena itu, tugas orangtua adalah melatihnya…

It's true kalau anak kita belum terampil mengekspresikan perasaannya. Karena itu, tugas orangtua adalah melatihnya….

It's true kalau anak kita masih mudah tantrum, karena itu tugas orangtua adalah melatihnya…


Maka, izinkan saya bertanya kepada Anda, kira-kira, apa yang dipelajari anak, jika:

- Kita bilang, 'NAK,SABAR DONG!', sambil mata melotot, tangan teracung, dan intonasi meninggi
- Kita bilang, 'Iiih, kamu ini kenapa sih ngeluh-ngeluh terus!', sambil kita juga mengeluarkan keluhan-keluhan akibat dia ngeluh terus
- Kita teriak, 'NAK, GAK USAH TERIAK-TERIAK  DEEH!?!?'

Jika hal ini terjadi, apa yang sebetulnya dipelajari anak-anak kita?

Karena itu, menangani anak tantrum, Anda perlu berpegang pada dua prinsip ini:

1. Sepanas apapun yang terjadi di luar, hati di dalam tetap perlu sejuk

Bagaimana membuat hati dingin? Salah satunya adalah dengan banyak-banyak memaklumi hal-hal apa saja yang memang sangat wajar dilakukan sama balita Anda. Namanya balita yang baru bisa ngomong, pasti bakal banyak bertanya kan? Naah maklumi hal itu. Berlebihan jika Anda minta dimaklumi lebih dulu sama balita Anda, sedang mereka belum terampil melakukannya. Ingat kembali, siapa yang sudah dewasa?😊

2. KxR = H

Maksudnya, K adalah kejadian, H adalah hasil. Jadi, apapun kejadiannya, hasilnya tergantung dari respon apa yang kita pilih. Pada dasarnya, Anda memiliki pilihan mau merespon seperti apa. Misal, anak tantrum, kemudian Anda memilih untuk menasehatinya, silakan saja. Namun bagaimana hasilnya?

Kira-kira saja, kalau kita di posisi anak, sedang emosi tinggi, terus orangtua menasehati, apakah kita merasa dicintai? Karena nsehat yang diberi ketika anak sedang emosian sama saja dengan menyiram bensin ke api yang sedang membara.

Atau, memilih respon tantrum juga? Hehehe, ini mah api nubruk api 😄

'Tapi kang, kok saya serasa tidak punya pilihan?'

Karena pada dasarnya, kita perlu membedakan dulu antara emosi yang kita rasakan dan ekspresi emosinya. Emosi misal marah, ekspresinya apakah semua orang di seluruh dunia seragam, misal harus caci maki, dan pukul-pukul? Pasti kan tidak…

Naah, yang perlu Anda lakukan adalah menciptakan dan memperpanjang ruang antara emosi dan ekspresinya, ketika 'ruang kosong' Anda ciptakan, Anda memiliki ruang untuk memutuskan untuk memilih respon mana yang Anda mau pilih.

Dan jenis-jenis pilihan apa yang bisa Anda ambil, tergantung dari banyaknya referensi yang Anda miliki. Dengan kondisi tidak adanya pelajaran bagaimana menjadi suami/istri/ayah/ibu di sekolah formal, seberapa banyak Anda memiliki referensi di otak Anda? Dan apakah Anda menyengajakan diri berinvestasi di kelas-kelas parenting?

Kalau sudah, selamat! Anda memiliki banyak referensi yang bisa Anda gunakan ketika Anda ciptakan 'ruang kosong' tersebut

Kalau belum? Demi Allah, akan ada beda antara orangtua yang mau belajar dan yang tidak. 😊

Karena, K x R = H. Apapun kejadiannya, hasilnya bergantung dari respon yang kita pilih. Kira-kira, apa yang terjadi dengan seorang balita yang sejak dini dikenalkan terlebih dulu bagaimana sabar yang benar melalui buku 'Sabarku Hari Ini'? 😊



Maka, sekali lagi, anak kita tantrum adalah hal yang normal. Adalah tugas kita yang dewsa, untuk membimbing anak kita secara perlahan-lahan. Jadilah orangtua yang betul-betul mengayomi, membimbing, serta membersamai tumbuh kembang balita kita.😊

Karena peran kita sebagai orangtua, kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapanNya 😊

Popular posts from this blog

Anda Perlu Suplemen Jika...

Riset menunjukkan, setiap hari, tubuh membutuhkan sekitar 45 jenis zat gizi. Untuk bisa melengkapi kebutuhan 45 zat gizi itu, menu harian harus terdiri atas empat sampai lima jenis menu setiap kali santap. Melihat banyaknya kebutuhan zat gizi tersebut, rasanya, banyak dari kita yang mengalami kekurangan sejumlah zat gizi tersebut. Nah, untuk mengatasi kekurangan sejumlah zat gizi ini, kita memerlukan vitamin ekstra. Kini banyak dijual makanan tambahan atau food suplemen dan multivitamin. Bentuk dan jenisnya juga beragam. Ada yang berbentuk pil, cair, dan tablet. Sedang fungsinya sangat beragam, sesuai zat penyusun di dalamnya. Memang, baik suplemen maupun multivitamin mengandung zat yang penting bagi kesehatan. Bahkan, dari beberapa penelitian, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya akan melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Selain itu, perkembangan tubuh saat masih anak-anak juga tergantung ...

Dengar Musik 2 Jam Non Stop Picu Sakit Kepala dan Migrain

Sering mengalami sakit kepala atau migrain terus menerus? Mungkin penyebabnya berasal dari kebiasaan Anda mendengarkan musik. Menurut peneliti, mendengarkan musik selama satu hingga dua jam non stop tiap harinya bisa berbahaya untuk kepala, khususnya bagi remaja. Dengan membandingkan kebiasaan sekitar 1.025 remaja usia 13 hingga 17 yahun, peneliti menyimpulkan bahwa mendengarkan musik selama satu hingga dua jam non stop dalam satu hari bisa memicu sakit kepala atau migrain. Dari hasil survei, 489 partisipan mengaku sering menderita sakit kepala sedangkan 536 lainnya tidak. Setelah ditelusuri, partisipan remaja yang mengalami sakit kepala biasa mendengarkan musik dari MP3 atau iPod selama satu atau dua jam setiap harinya. Astrid Milde-Busch dari Ludwig-Maximilians-University, Munich mengatakan bahwa bukan aktivitas mendengarkan musiknya yang menyebabkan sakit kepala, tapi frekuensinya. "Buka...

Perjuangan Seorang Bidan Desa

BADUI Kabut merayap pelan di sebagian punggung Pegunungan Kendeng pada pagi, Tepat pukul 06.15 seorang wanita muda berbaju hitam berjalan pelan menaiki tangga buatan di sebuah jalan setapak yang melintasi perbatasan kampung suku Badui Luar di Kampung Kadu Ketug. Dia menuju Desa Ciboleger, sebuah desa di luar kawasan Badui. Sambil menutupi sebagian wajahnya, ibu muda bernama Lis, 20, itu tampak kedinginan. Pagi itu perempuan Badui tersebut sudah berjanji untuk berobat di tempat praktik Bidan Eros Rosita di Desa Ciboleger. Dia adalah satu-satunya tenaga medis yang telah mendapatkan “lisensi” dari para tetua adat suku Badui Luar dan Badui Dalam untuk mengobati warga Badui secara langsung. ”Dulu tidak begini. Pasien sangat minim karena takut berobat. Mereka lebih percaya kepada dukun,’’ ujar Rosita setelah menangani sejumlah pasien. Pada jam-jam tertentu sebelum atau setelah bertugas di Puskesmas Ciboleger, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, wanita 38 tahun itu membuka praktik di ke...